Pancanorma Info Terkini

SOSIAL

JURNAL

Budaya

DOA

TOP 5 News PancaNorma

UBAH

PLAN

Tanggapan Pembaca

PENDIDIKAN

TEKNOLOGI

Main Menu


Berita

Keluarga

Kesehatan

Raja-Raja Bone

Sejarah dan Silsilah Raja-Raja Warga Prebali 0 Comments

By Teluk Bone
| Posted in

Pada abad ke-10 terjadi migrasi penduduk dari Thailand ke Indonesia. Mereka berasal dari Kerajaan Champa, dengan Rajanya dari Dinasti Warman. Di Indonesia mulanya mereka menetap di Kutai Kartanegara (Tenggarong), Kalimantan Timur. Sebagian berpindah ke Palembang (Sumatra Selatan) dan ke Bali (Buleleng). Yang di Buleleng mendirikan Kerajaan Singhadwala dengan istananya di Penyusuan (sekarang berdiri Pura Penegil Dharma, Kubutambahan). Raja pertama adalah Sri Kesari Warmadewa (913M – 955M).
Ketika beliau digantikan oleh putra-putrinya bernama Sri Hari Tabanendra Warmadewa dan Sri Subadrika Warmadewa (955M – 967M) istana dipindahkan ke Serai (Kintamani), karena istana di Penyusuan sering diganggu perompak/bajak laut.
Pemukiman di Serai juga tidak lama, karena mereka menemukan daerah yang sangat subur di selatan. Maka pada pemerintahan putranya bernama Sri Candrabhayasingha Warmadewa (967M – 968M) istana dipindahkan ke Tampaksiring (Gianyar)
Dari Tampaksiring berpindah ke Bedahulu ketika Raja Sri Janasadhu Warmadewa (968M – 983M) bertahta.
Istana Bedahulu sebagai pusat pemerintahan terus dipertahankan oleh Raja Wijaya Mahadewi (983M – 988M) sampai ke anaknya yang bernama Sri Dharmodayana Warmadewa (Udayana). Beliau memerintah bersama-sama permaisurinya: Sri Mahendradatta (Sri Gunapria Dharmapatni (983M – 1011M)
Beliau berputra dua orang; yang tua bernama Airlangga, dan adiknya: Anak Wungsu. Pada tahun 1019 Airlangga peri ke Jawa Timur, sedangkan adiknya tetap di Bali, namun istananya dipindahkan ke Tampaksiring. Beliau bergelar Dharmawangsa Wardana Marakata Pangkaja Sthana Uttunggadewa (1072 M – 1098).
Antara tahun 1011M – 1072M Bedahulu dikuasai oleh Raja lain yang bukan dari Dinasti Warmadewa, bernama Sri Suradhipa.
Anak Wungsu digantikan putranya bernama Sakala Indukirana Isanagunadharma Laksmi Dharawijaya Uttunggadewi (1098M – 1133M) yang istananya tetap di Tampaksiring.
Tahun 1133M sampai 1325M terjadi pergolakan dan peperangan yang menyebabkan istana Bedahulu diduduki oleh Raja-Raja lain. Tahun 1325M keturunan Dinasti Warmadewa bernama Dharma Uttungga Warmadewa berhasil merebut Bedahulu. Beliau bertahta sampai tahun 1328M.
Raja-Raja selanjutnya adalah Bhatara Sri Wala Jaya Kertaning Rat (1328M – 1337M), dan Bhatara Sri Asta Asura Ratnabumibanten (Sri Tapolung) bertahta sampai tahun 1343.
Inilah Raja terakhir dari Singhadwala, yang dikalahkan oleh Majapahit. Sejak tahun 1343 Bali dikendalikan oleh penguasa sementara dari Majapahit bernama: Kiyai Patih Wulung berkedudukan di Gelgel (Klungkung). Nama kerajaan adalah Bali Dwipa.
Di zaman pemerintahan Dalem Waturenggong (1460M – 1550M) Purohita (Pendeta Kerajaan) bernama Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh (Ida Danghyang Nirartha). Atas nasihatnya kepada Raja, administrasi kependudukan ditertibkan; lelintih (soroh) dan kasta di tata kembali, dengan pembagian tugas/wewenang serta hak/kewajiban yang jelas. Bagi penduduk yang masih ada hubungan kekeluargaan atau keturunan langsung dari bekas Raja-Raja penguasa sebelum era penjajahan Majapahit, diberi gelar/kasta “Prebali”
Penugrahan Dalem Waturenggong kepada Warga Prebali antara lain:
  1. Upacara atiwa-tiwa menggunakan tataning para ratu dengan bade tumpang 7, mekapas 9 warna, mabedawang nala, magaruda mungkur, maboma, magender salonding.
  2. Rerajahan Surat Kajang jangkep seperti gambar terlampir.
  3. Menjadi Manca dengan wewenang memungut pajak di wilayah tertentu.
Memimpin upacara Panca Yadnya di lingkungan keluarga sendiri.

Follow any responses to the RSS 2.0. Leave a response

Leave a reply

Terima Kasih Komentar Anda

0 komentar for "Sejarah dan Silsilah Raja-Raja Warga Prebali"